Tangani Gagal Ginjal Dengan Hemodialisis

Garuda Sentra Medika – Ginjal kita memiliki fungsi menyaring atau membersihkan darah dari limbah-limbah metabolisme kemudian dibuang melalui urine.

Selain itu, ginjal juga berfungsi menyeimbangkan unsur mineral penting seperti natrium dan kalium serta memproduksi hormon untuk mengatur tekanan darah, hormon untuk mematangkan sel darah merah, dan hormon yang berperan dalam regulasi Vitamin D.

Ginjal dapat mengalami penurunan fungsi dan menjadi rusak oleh berbagai sebab sehingga menyebabkan gagal ginjal. Pasien yang dalam kondisi demikian memerlukan terapi pengganti ginjal, salah satunya dengan hemodialisis.

Gagal ginjal dibedakan menjadi dua jenis :

1. Gagal ginjal akut yang terjadi secara tiba-tiba, biasanya berlangsung singkat dan diharapkan dapat pulih kembali.

2. Gagal ginjal kronik yang terjadi secara perlahan-lahan dan bertahap kemudian menjadi lebih berat dan pada akhirnya terjadi kematian sel-sel ginjal secara menetap. Kondisi ini memerlukan terapi pengganti ginjal, seperti hemodialisis rutin/kronis seumur hidup.

Gejala Gagal Ginjal
Gejala Gagal Ginjal yang dirasakan pasien bervariasi, mulai dari keluhan ringan sampai berat. Keluhan dapat berupa rasa lemah, mudah lelah, pucat, mual, muntah, hingga keluhan sesak napas hebat hingga penurunan kesadaran.

Gejala-gejala yang tidak khas tersebut seringkali baru dirasakan ketika pasien sudah berada pada tahap akhir gagal ginjal (stadium 5).

Pada beberapa kasus pasien bahkan tidak merasakan gejala apapun, penyakit ginjal dalam kasus ini ditemukan tidak sengaja saat dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan untuk mendeteksi penurunan fungsi ginjal adalah ureum dan kreatinin dari darah, serta urinalisis.

Pemeriksaan ini perlu dilakukan karena dengan satu ataupun sekumpulan gejala saja belum dapat menentukan seorang pasien mengalami gagal ginjal.

Pasien yang terdiagnosis gagal ginjal, memerlukan terapi pengganti ginjal di mana hemodialisis merupakan pilihan yang paling sering diambil oleh pasien di Indonesia.

Pilihan lainya adalah cuci darah melalui perut alias Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau cangkok ginjal.

Hemodialisis atau sering disebut dengan singkatan HD merupakan terapi pengganti ginjal yang dapat dilakukan di pusat kesehatan yang memiliki fasilitas ini.

Hemodialisis seringkali dipilih dibanding kedua pilihan terapi pengganti ginjal yang lain, karena cukup mudah, dapat segerah dilakukan setelah akses vaskular terpasang. Hasilnya juga dapat segerah dirasakan.

Pada proses hemodialisis ini terjadi prosedur pembersian darah dan akumulasi sampah buangan dan kelebihan air dengan cara mengeluarkan zat sisa metabolisme, seperti ureum dan zat beracun lainnya dalam darah. Singkatannya, hemodialisis merupakan prosedur yang menggantikan fungsi ginjal sebagai alat ekskresi.

Cara Kerja Hemodialisis
Hemodialisis merupakan prosedur menarik darah dari dalam tubuh pasien ke dalam filter yang disebut dialyzer yang berfungsi sebagai artificial kidney, dimana terjadi proses pengambilan zat-zat berbahaya dan kelebihan air, lalu mengembalikan darah bersih ketubuh pasien secara berulang-ulang dalam satu siklus.

Dialyzer merupakan sebuah alat yang berkerja dengan konsep filter, yang terdiri dari ribuan serat halus di mana terjadi proses pertukaran zat-zat berbahaya, cairan, dan elektrolit berlebih yang dapat melalui membran yang selektif permeabel.

Terdapat dua kompartemen dalam dialyzer yang dipisahkan oleh membran tersebut, yaitu kompartemen darah dan kompartemen dialisat dan selanjutnya akan dibuang.

Sebaliknya, apabila di darah pasien terdapat kekurangan elektrolit tertentu, elektrolit tersebut dari kompartemen dialisat akan masuk ke kompartemen darah, sehingga kadar elektrolit di tubuh pasien menjadi normal kembali.

Dalam menjalankan prosesnya, diayzer didukung oleh cairan dialisat dan bicarbonate. Bersama dengan cairan bikarbonate, cairan dialisat dicampur didalam mesin dengan bantuan air murni olahan yang menggunakan teknologi reverse osmosis.

Campuran cairan ini kemudian beriringan dengan darah menuju ke dialyzer sebagai tempat proses pertukaran racun-racun sisa metabolisme dan elektrolit dilakukan. Racun tersebut kemudian dibawa keluar bersama cairan dialisat untuk dibuang lewat saluran pembuangan.

Untuk membungkus darah pasien ke mesin hemodialisis, diperlukan akses vaskuler. Akses vaskular ada yang temporer (sementara) seperti kateter double lumen hemodialisis atau ada yang permanen.

Akses vaskuler yang baik dan ideal adalah fistula arteriovena, yaitu suatu akses yang permanen yang dibuat dengan menciptakan anastomosis atau hubungan antara arteri dan vena (biasanya di lengan bawah) yang biasa disebut dengan Cimino-Breschia filstula, atau dengan menghubungkan arteri dengan vena lewat pembulu darah tambahan (graft). Akses permanen ini dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk menjalani prosedur hemodialisis adalah 9-12 jam dalam seminggu. Prosedur tersebut biasanya dibagi menjadi dua atau tiga kali pertemuan dalam seminggu dengan masing-masing sesi berlangsung selama 3-5 jam.

Namun, lamanya durasi dan frekuensi dalam menjalani prosedur tiap minggunya tidak sama untuk setiap orang. Ini bergantung pada derajat kerusakan ginjal, diet sehari-hari, penyakit lain yang menyertai,ukuran tubuh, dan sebagainya.

Kondisi berbahaya pada pasien gagal ginjal yang menyebabkan pasien harus melakukan hemodialisis segera, antara lain :

  1. Gangguan otak seperti penurunan kesadaran dan kejang (ensefalopati uremikum)
  2. Peradangan kantong jantung (perikarditis)
  3. Peningkatan keasaman darah (asidosis) yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan
  4. Gagal jantung atau overload
  5. Kadar kalium yang sangat tinggih dalam darah (hiperkalemia)
  6. Paru bengkak oleh cairan dan zat racun (udem paru)

Perlu tidaknya prosedur hemodialisis memang tergantung dari jenis dan tingkat gagal ginjalnya. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa akibat paling serius apabila hemodialisis tidak dilakukan pada pasien gagal ginjal adalah kematian. Untuk gagal ginjal akut, apabila diperlukan, hemodialisis adalah prosedur yang dapat sangat membantu pada pasien dengan kondisi yang berat.

Bila penyebab gagal ginjal akut tidak dapat diatasi dan hemodialisis tidak dilakukan, maka pasien dapat saja tidak bertahan. Akan tetapi, jika penyebab gagal ginjal akut seperti infeksi berat atau sepsis dapat segera diatasi, hemodialisis bisa jadi tidak diperlukan.

Bagi pasien gagal ginjal kronik yang sisia fungsi ginjalnya 15%, maka fungsi ginjal tentu tidak akan dapat menunjang keperluan tubuh., terutama untuk mengeliminasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun dan kelebihan air. Selain itu, bisa juga didapat ketidak seimbangan elektrolit dan asam basa yang berat pada tubuh pasien. Pasien seperti ini memerlukan hemodialisis kronis.

Perlu diingat bahwa hemodialisis hanya menggantikan tugas membersihkan darah dari sisa metabolisme dan air yang berlebihan (fungsi ekskresi). Sedangkan fungsi produksi hormon ginjal tetap tidak digantikan. Oleh sebab itu, pasien yang menjalani hemodialisis rutin/kronik tetap memerlukan suntik hormon eritropoetin (yang mematangkan sel darah merah) dan Vitamin D aktif, disamping konsumsi obat-obatan rutin.

Hemodialisis adalah modalitas yang baik yang dapat digunakan untuk pasien yang memerlukannya. Akan tetapi yang terbaik adalah mencegah dari pada mengobati. Sebaiknya kita hidup sehat, menikmati makanan sehat dan seimbang nutrisinya, olahraga teratur, minum cukup dan memeriksa kesehatan kita secara berkala.S

Source :
Dr. Lydia Dorothea Simatupang, Sp. PD-KGH,FINASIM
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *